Harusnya Sekarang Aku Jadi Chef!

Sepertinya pengandaianku berlebihan. Bagaimana tidak, masa SMA kuhabiskan tiga tahun di asrama. Setelah lulus, aku hidup di kos-kosan. Lanjut S2 juga kos. Saat di Prancis pun aku benar-benar mandiri. Sayangnya, semandirinya tinggal jauh dari orang tua, tak cukup membuat banyak waktu untuk memasak sendiri.

Saat di asrama, tiap jam makan sudah disiapin. Saat kuliah, karena sibuk akhirnya beli jadi ke warung-warung. Masak pun hanya sesekali saja jika memang ingin makan sesuatu. Saat S2, karena dapur kosnya mendukung untuk memasak, semangatku memasak cukup tinggi, walaupun masih disibukkan dengan tugas kuliah. Masakan yang berhasik kubuat sepetrti ayam kecap, cumi tumis, cumi asam manis, maupun sayur sederhana seperti sop.

Saat di Prancis, dapur menjadi milikku sepenuhnya, karena saat kos sebelumnya dapur digunakan bersama-sama. Di Prancis, satu kamar langsung digunakan untuk masak, tidur dan kamar mandi. Bagiku, percobaan memasak adalah hal yang menghibur hati. Bagaimana tidak, di negara asing tersebut hampir tidak ada yang menjual masakan indonesia. Dan itu menjadi tantangan tersendiri buatku.

Bumbu yang sangat terbatas, sayuran daerah tropis yang jarang sekalj dijual, membuat ingjn bereksperimen apapun. Bahan yang dibeli dari toko cina pun berbeda. Contohnya kecap, belum pernah aku menemukan kecap manis dan kecap asin disana. Alhasil, hanya beli soya sauce yg mirip kecap dengan rasa yang bercampur manis dan asin. Harganya pun murah. Ada yang kental, tapi harganya mahal.

Yang jelas saat di Prancis, jenis masakanku adalah masakan jawa rumahan. Tepatnya, masakan ibu. Tentu, tidak sesulit yang dibayangkan sebenarnya. Temanku sering sekali masak masakan indo yang benar-benar cita rasa indo. Dia sering masak macam-macam. Kalau aku? Mau beli bahannya saja harus perhitungan banget. Soalnya beasiswaku terbatas, beda dengan temanku.

Lidahku benar-benar lidah jawa. Andaikan saat di Prancis dulu aku bereksperimen masakan eropa, mungkin saja sekarang aku jadi chef jago di Malang. Hehehe.

Dan sekarang, sebenarnya aku bisa bebas berekspresi memasak apapun yang sudah disediakan di kulkas mertua. Tapi aku tidak sembarang bereksperimen, karena aku belum tahu kesukaan mereka apa. Kalau pada nggak doyan, nggak ada yang makan sayang banget dibuang.

Kasian lah suamiku ini. Badannya semakin kurus kerontang, wkakaka.. Ingin rasanya aku memasakkan makanan kesukaannya setiap waktu. Rasa-rasanya tidak mungkin karena aku harus kebal dengan capek, karena masak satu waktu saja sudah capek.

Iklan

Selalu ada Rezeki

Bayangkan, betapa nikmat Allah itu besaaar.
Baru saja batin ingin makan bakso, eh tiba-tiba ibu mertua pulang bawa bakso setelah acara pengajian.
Batin pengen makan pempek. Tiba-tiba kakak ipar dari palembang datang bawa pempek.

Minghu sebelumnya pengen banget bakpia patok yang kacang ijo. Dan nggak banyak berharap soalnya harus beli dulu di yogya. Atau titip orang pun siapa? Eh, tadi barusan ada di atas meja ruang tamu. Ternyata dibawain temannya adik ipar. Ini yang kusebut makanan dari surga. Allah mengirimnya untukku disaat aku memang kepingin. Hehe

Ada cerita saat ingin menyeberang jalan. Biasanya kendaraan-kendaraan ini tidak pernah mau mengalah sama pejalan kaki. Alhasil saya harus beri tampang besungut atau kalau saya tidak melambai-lambai tak akan diberi jalan. Dan kali ini ketika mau menyeberang, ada mobil putih yang sangat pelan sekali jalannya sampai-sampai kendaraan di belakangnya pada antri dan memperingatkan si mobil untuk segera jalan. Si mobil tetap jalan pelan. Jarak saya dengan mobil masih jauh sekitar 10 meter. Dan saya baru ngeh kalau ternyata itu mobil memberi saya kesempatan untuk menyeberang. Nyebranglah saya dengan anteng dan hati-hati. Di sebelah mobil putih, yang masih berjarak cukup jauh ada motor yang tiba-tiba memelankan kecepatannya melihat saya menyeberang.
Batin saya, tumben sekali kendaraan-kendaraan yang ramai ini mau mengalah. Saya pun tersadar ketika melihat perut saya yang semakin membesar. Oh, rupanya, mereka membuka mata saat ibu-ibu hamil menyeberang jalan.

Belum lagi, sifat pelupaku yang semakin parah saat hamil. Kacamata lupa taruh dimana. Suami yang tahu aku sering lupa, sering juga tu emosi. Pernah suatu kali dompetnya tidak sengaja tercuci di mesin cuci otomatis yang tidak bisa dibuka. Bahkan dipaksa pun belum tentu bisa. Suami sudah ngamuk-ngamuk tuh. Akunya diam aja. Ya salah juga sih nggak ngecek dulu.
“Makanya dicek dulu! Banyak barang penting disana, kalau rusak gimana??” Katanya dengan nada bicara yang tinggi.
Ya, ya, ya, aku diam saja. Sambil mengutak-atik mesin cuci kali aja bisa dilepas. Akhirnya aku matikan dan aku cabut dari stop kontak. Membiarkannya hingga beberapa menit. Ternyata ada suara klik, dan ternyata pintu terbuka.
Sujud syukur deh. Suami yang sudah terlanjur marah cuma diam. Aku mulai membuka semua isi dompet. Pertama-pertama yang kulihat adalah STNK. Untung tulisannya tidak berubah jadi blur. Uang-uang basah semua. Semoga kartu ATM nya masih berfungsi.
Akhirnya semua kukeringkan dengan hair dryer. Suami mulai menurun emosinya melihat tak ada satupun yang rusak.
Hmm..
Itu masih satu kasus pelupa. Banyak kasus-kasus lain yang kecil-kecil yang terkadang bikin suami hampir hilang kesabaran.
Saat mengurus akta ke notaris, ibunya yang tahu aku hamil kemudian bilang, “kalau orang hamil itu biasanya sering lupa.”
Hah, rupanya memang benar apa kata ibu. Setelah itu, tiap aku lupa akan sesuatu, suami sudah tidak terlihat emosi lagi. Hehhehe. Sepertinya dia semakin menolerir sifat pelupaku. Bahkan cuma senyum-senyum saja kalau aku lupa akan sesuatu.

Pernah ya. Suami minta bawakan es batu. Karena kamar di lantai dua, akhirnya turun ke lantai satu. Di dapur, ternyata banyak yang kulakukan, mulai nyemil-nyemil, dan menampung air di gelas untuk dibawa ke kamar. Naiklah ke kamar dan menaruh air minum di meja. Suami cuma menatapku terdiam melihat gerak gerikku. Aku merasa ada yang ganjil di hati, tapi semakin dipikir semakin bingung. Aku cuma berdiri di kamar seperti orang bingung.
“Kayanya kok ada yang aneh ya, kamu tadi minta apa sih?” Tanyaku akhirnya sambil kebingungan.
Ekspresi suamiku seperti ingin menertawakanku. “Es batuuuuu manaaaa???”
Iya, lupa. Maaf darling.

Suatu kali, aku dan suami sibuk sama gadget masing-masing. Kemudian saat aku sudah bosan, aku tidak bermain gadget ku lagi. Suami sempat meminjamnya untuk lihat video di youtube. Beberapa menit kemudian, aku mau menghubungi salah satu temanku. Aku meminta gadgetku pada suami, tapi dia sudah tidak memegangnya. Aku bahkan tidak ingat lagi kapan dia berhenti bermain gadgetku. Alhasil, aku meminta dia untuk mengembalikan gadget. Tapi dia tidak memberinya, bahkan asyik sendiri dengan gadgetnya. Mulai emosi karena dicuekin. Dia bilang tidak tahu, padahal dia tadi yang pegang. Aku minta tolong ambilkan. Dia berlagak tidak mau. Haduh, mau ngamuk tapi gimana yah. Dia bilang makanya bangun dulu terus cari sendiri. Padahal kan aku yang minta tolong diambilkan. Hmm.. mulai kurang sabar ni akhirnya aku bangun dan mencari-cari gadgetku. Ternyata, tepat ada di balik punggungku. Setelah itu suami mengejekku. Yang naruh siapa juga. Ah, aku lupa lagi. Benar-benar tidak ingat kapan aku menaruhnya.

Memunculkan Motivasi Menulis Skripsi/Thesis, Artikel, Cerpen, Novel.

Re-writing?
Sepertinya lebih tepat disebut warming up. Pemanasan. Bukan olahraga sih. Tepatnya pemanasan jari-jari tangan dalam dunia tulis menulis.
Sudah berapa bulan ya? Sepertinya sudah tiga bulan lebih, dan saya belum mengkaryakan sesuatu.

Padahal sudah berapa duit dikeluarkan buat beli fasilitas tab ini hanya untuk melatih menulis dan membaca novel klasik luar yang didownload gratis dari play store. Berapa pulsa dikeluarkan, belum juga produktif dan menghasilkan.

Dan saya sempat disinggung suami bahwa tab ini bukan untuk sosial media loh. Ah, iya. Sejak itu, dua karya selesai. Padahal banyak ilmu yang didapat teman dari FLP tentang dunia kepenulisan, tapi saya tak (belum) kunjung berhasil.

Banyak ide dalam pikiran untuk menulis sebuah karya, tapi semua mengendap di kepala. Manusia otak kanan sepertiku rasanya susah sekali untuk mengembangkan kreatifitas dan seni. Rasanya sudah menyerah duluan. Semangatnya sih menggebu-gebu, tapi kalau sudah di depan layar. Entah kenapa jadi ciut.

Sepertinya membangkitkan semangat menulis tidak hanya harus dimunculkan dari dalam diri tapi juga dari lingkungan sekitar. Menulis pun tidak melulu cerita pendek, novel, atau jenis fiksi lainnya. Menulis bisa juga untuk artikel, skripsi, thesis dan disertasi ataupun karya non fiksi lainnya. Dan semua butuh motivasi untuk mengerjakannya.

Menurut pengalaman, menulis skripsi itu adalah ujian terberat, karena kita harus benar-benar me-manage diri sendiri. Harus men-deadline kerjaan sendiri. Semuanya harus sendiri. Sedangkan pembimbing hanya melihat kesiapan kita untuk lanjut sidang atau tidak.

Sedangkan menulis cerita pendek, itu adalah hobi. Beda sama skripsi/thesis yang bukan sebuah hobi. Kalau hobi pastilah kita senang melakukannya. Tapi bisa jadi saat melakukannya kita mengalami kendala dan akhirnya tidak melanjutkan proyek menulis.

Ada beberapa tips untuk memotivasi diri sendiri dalam tulis menulis, baik fiksi maupun non fiksi, baik skripsi thesis maupun non.

1. Tentukan target selesai

Jika sudah mengambil sks skripsi/thesis, justru bukan saatnya berleyeh2. Waktu itu cepat sekali berlalu, satu bulan tidak kerasa. Jika ingin sidang akhir semester, maka tandailah di kalender kira-kira maju Minggu terakhir sidang. Begitu juga untuk membuat jurnal penelitian. Dan tanamkan dalam hati bahwa penelitian kita harus benar-benar selesai saat itu, lebih cepat lebih baik.
Sedangkan jika untuk produktif di dunia artikel/opini, semua tergantung isu yang terjadi saat itu, lebih cepat lebih baik, tapi jangan sampai kualitas tidak dijaga. Karena jika terlalu lama di publish atau dikirim ke media massa, maka bisa jadi isu sudah mulai basi.
Kalau untuk cerita pendek, sepertinya agak susah karena setiap orang akan beda-beda menyelesaikan karyanya. Jika memang kita ini termasuk orang yang harus dideadline, termasuk saya, maka lebih baik ditentukan jadwal selesai menulis kapan saja. Terserah 1 bulan 1 karya atau 1 minggu 1 karya. Yang terpenting target selesai. Semakin sering semakin baik sehingga kebiasaan menulis semakin terasah.

2. Buat jadwal pelaksanaan

Setelah target final dibuat, untuk pengerjaan skripsi/thesis, buatlah jadwal pelaksanaan ditarik mundur dari target final. Tentukan kapan harus survey awal, ambil data, survey inti, analisis, survey selanjutnya jika memungkinkan ada data yang kurang, asistensi, revisi, seminar hasil (jika ada), revisi, asistensi dan sidang akhir. Sampai disini mungkin tidak ada masalah.

3. Kendala dalam Pelaksanaan

Membuat jadwal memang gampang, tapi nyatanya selalu saja ada kendala sehingga jadwal menjadi mundur. Mulai dari kantor dinas yang ribet, ijin ribet, data kurang, dosen susah ditemui, bahan materi kurang, kesulitan revisi, dan segala macamnya. Dan disaat seperti itu, tentu bagaimana drop-nya kita. Tapi sebenarnya ada saja jalannya, tinggal kita bagaimana mencarinya.

4. Cepatlah keluar dari “goa”

Jangan sampai semangat kita yang kendur mengerjakan penulisan/penelitian membuat kita menjadi tidak produktif, sama sekali mengerjakan sesuatu yang tidak berguna, seperti melamun dan nangis-nangis dalam kamar. Mending keluar dari goa bertemu teman-teman untuk menghilangkan kepenatan. Siapa tau ide malah muncul saat tertawa bareng teman.

5. Sering sharing dengan teman

Jika kita sering di dalam goa, tidak keluar kamar, tentu saja penulisan/penelitian kita tidak selesai. Mending kalau tidak keluar kamar ternyata sudah menyelesaikan sepuluh halaman. Jika cuma menangis tak henti-henti. Waktu benar- benar percuma.
Lebih baik kumpul sama teman, alangkah baiknya teman sejurusan, sharing-sharing saja kendalanya apa, tak apa deh kalau sampai nangis-nangis. Kalau ternyata membawa pencerahan kan lumayan juga membantu penulisan. Kadang bisa jadi, apa yang kita pikirkan itu tidak sesulit kenyataannya. Karena pikiran kita sudah keruh, jadi hal yang sederhana malah jadi ribet. Ternyata teman yang pikirannya lagi jernih itu malah bisa memberikan solusi.
Begitu juga dunia kepenulisan fiksi, sharing sama teman justru sangat membantu. Selain membantu menyemangati kita, malah bisa memberikan masukan ide tambahan.

6. Selalu kumpul dengan teman-teman yang semangat

Ini yang penting! Sebagai motivasi untuk tetap bersemangat. Terkadang kita ciut melihat teman kita yang sudah asistensi, atau bahkan mau daftar seminar hasil. Sepertinya wajah-wajah semangat mereka menenggelamkan kita ke laut yang paling dalam. Padahal mereka yang sudah start duluan harusnya bisa menjadi semangat kita untuk menyusul mereka.
Begitu juga di dunia fiksi, para penulis hebat bisa menyalurkan semangatnya untuk menulis. Kita jadi tahu waktu menulis mereka, perkembangan mereka, pencapaian dan prestasi. Itulah yang mendorong kita untuk terus menulis.

7. Susah jadi Perfeksionis

Nah ini dia, salah satu penyakit mahasiswa idealis. Sama seperti saya, awalnya inginnya semua pengerjaan perfeksionis. Tapi saya sadar bahwa perfeksionis justru membawa kesulitan untuk diri sendiri. Karena tidak ada kesempurnaan selai  dari Allah. Dan akhirnya saya memilih untuk biasa saja dan segera menyelesaikan penulisan.

8. Paksakan diri sendiri

Setelah melakukan beberapa poin diatas, maka paksakan diri untuk mengerjakan tulisan. Cukup 1-2 paragraf saja. Biasanya hati akan tergerak sendiri untuk melanjutkan bahkan hingga selesai.

9. Nikmati Malasmu dalam beberapa hari

Jika memang sangat susah sekali memaksakan diri untuk menyelesaikan tulisan, maka lebih baik nikmati saja. Tapi ingat, cukup tiga hari! Maksimal! Bersantailah. Jelajahilah alam. Travellinglah. Refreshinglah sepuas-puasnya. Jika lebih dari itu, kemungkinan sama sekali tidak ingin mengerjakan. Dan akhirnya malah lupa.

10. Kerjakan Biarpun Bingung

Nah, setelah kita sudah mulai semangat untuk mengerjakan. Maka selesaikanlah. Jika ternyata ada yang bingung, maka kerjakanlah semampu kita. Saat datang ke pembimbing, kita bisa menanyakannya karena pembimbing pasti senang. Itulah fungsi pembimbing, memberi saran kerjaan kita.

Bagaimana dengan artikel atau cerita pendek? Sharing ke rekan yang lebih jago dan terbiasa menulis cerita pendek sangat membantu memberi masukan kita.

11. Minta semangat ke Allah

Tak ada yang berkuasa selain Allah, Maha Pencipta. Dia yang brkuasa membolak balikkan hati kita, semangat kita, maka mintalah padaNya, semoga tetap terus berkarya dan berguna bagi orang lain melalui tulisan.

Sekian tulisan dari saya setelah beberapa bulan tidak ngeblog, semoga berguna untuk kita semua dalam memotivasi diri untuk menulis.

Senyuman yang Berbeda

Ada senyuman yang berbeda pada wajahnya. Bapak tua dengan kulit hitam legam. Urat nadi yang hampir keluar dari tempatnya. Badan yang kurus kering. Ringkih.
Senyuman saat menjaga bilik kecilnya di pinggir jalan besar. Mata yang berpendar penuh harap saat melihatku memarkirkan sepeda motor.
Ada senyuman yang berbeda ketika aku berkata akan membeli sebotol minuman untuk motorku. Senyumnya semakin lebar. Bagiku harga eceran cukuplah mahal dibanding harga beli di agen. Tapi aku ikhlas. Ikhlas saat memberi uang delapan ribu lima ratus padanya. Senyumnya semakin menyenangkan dipandang.
Aku tahu tak banyak orang yang mau membeli eceran. Lihatlah, ada seorang bapak tua yang berharap kalian membeli bensinnya. Demi istri dan anak-anaknya.

2nd word challenge : berkelindan, menanap, lindap

Tak ada yang tahu kenapa aku sampai pingsan. Aku pun juga begitu, tak mengerti kenapa tiba-tiba pingsan. Banyak pertanyaan mengenai penyebab aku pingsan. Tak ada jawaban yang memuaskan mereka seolah semua adalah misteri. 

Aku kembali bertugas. Malam hari seperti biasa menyusuri lorong asrama setelah semua pintu tertutup dan penghuni terlelap. Kali ini tidak ada bak mandi yang meluap airnya.

Teringat kejadian malam kemarin. Aku masih penasaran dengan bayangan yang berjalan cepat di atap itu tapi aku tak takut dengan hantu sekalipun. Mungkinkah itu hantu? Sepertinya bukan. Begitu banyak penghuni gaib yang sudah aku kenal di asrama putri ini, mulai kuntilanak, pocong, noni belanda, nenek berbaju merah darah dan lipstik merah, sampai bocah-bocah kecil yang suka mencuri duit penghuni asrama. Untungnya duit-duit yang diambil tuyul-tuyul itu dikembalikan lagi setelah aku mengancam mereka.

Tapi makhluk yang satu ini, sekelebat bayangan itu entah datangnya darimana, belum pernah aku melihatnya. Apakah malam ini aku akan melihatnya lagi? Memang baru kusadari, beberapa hari ini para penghuni-penghuni gaib itu tidak muncul di depanku.

Saat aku sudah di belakang asrama, mataku menyapu seluruh lansekap malam. Tak ada makhluk apapun tapi semakin lama penglihatanku semakin lindap. Tempat yang terjalin berkelindan tiba-tiba terasa asing. Aku terus menanap berusaha memperjelas unsur-unsur didepanku. Tak bisa.

2 random words : Atap & perlengkapan

Derit pintu-pintu kamar ditutup susul-menyusul. Malam larut mengundang mata untuk terpejam. Kamarku masih terbuka lebar. Lorong asrama semakin sepi. Aku berjalan menahan kantuk sebisaku, mataku sangat berat. Tak lupa membawa perlengkapan perjalanan malam. Kutenteng senter dan notes kecil yang siap mengukir nama-nama para pelanggar peraturan asrama.

Tugasku tiap malam menyusuri lorong asrama, kamar mandi, jemuran, maupun tangki tampungan air di belakang asrama. Kusipitkan mataku dalam remang koridor asrama. Mata dan kupingku cukup awas mendengar bebunyian dan hal-hal yang tidk beres di bilik-bilik kamar mandi. Notes ini akan memberikan takdir yang tak bakal disukai oleh si pelanggar.

Kubuka satu persatu pintu kamar mandi. Semua air di bak mandi terisi penuh. Dari sepuluh kamar mandi yang berjajar, hanya satu yang melanggar hingga air meluap keluar dari bak.

Huuhh!!! Geramku tertahan di tenggorokan. Lagi-lagi, kamar mandi nomor 10! Tak jera juga mereka dengan hukumanku. Baiklah! Andin, Vivi, Ute, Nuri! Kita lihat saja besok! Aku akan membuat kalian jera!

Langkah kakiku yang keras menuju belakang asrama menunjukkan rasa geramku. Aku memastikan tangki penampungan air. Tiba-tiba udara berkesiut menampar kudukku. Dingin. Brrrr. Hampir tak wajar rasanya. Kurapatkan mantel tidurku yang tak terlalu tebal ini. Tidak ada air meluap dari tangki penampung air. Tugas hampir selesai.

Mataku tertuju pada atap asrama. Ada sekelebat bayangan berpakaian putih dan berlari cepat. Mataku terus terhipnotis melihat ke arah pergerakan itu. Tiba-tiba dia sudah turun dari balik atap dan hilang dari pandanganku.

Besoknya, aku terbangun. Di kamarku sendiri. Teman sekamarku berkata, aku pingsan di tempat jemuran. Itupun saat teman sekamarku ingin ke kamar mandi dan belum melihatku ada di kasur. Ia menemukanku tertidur di rerumputan.